Mengenal Suku Dayak Kanayatn Dari Dodo

Sumber : Google
Perbincangan saya dengan Dodo, salah satu peserta pameran data ‘Indonesian Art-Chipelago’ ini membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang Suku Dayak. Jadi awalnya saya memang tertarik dengan Suku Dayak, saya menuju stand milik Dodo, saya ajak ngobrol panjang lebar, dan ternyata dia termasuk seorang warga Suku Dayak Kanayatn. Sudah sejak lama saya sangat tertarik dengan hasil-hasil kerajinan Suku Dayak. Kemudian saya mencoba bertanya soal biaya, habis berapa sih kira-kira, kalau saya ke Kalimantan Barat, dan bisa sampai ke pedalaman ? Katanya biayanya lumayan banyak, dan waktunya memang lama, berjam-jam, bahkan bisa berhari-hari kalau naik kapal.

Awalnya kami hanya membahas soal biaya, obrolan kami berlanjut membahas soal kebiasaan masyarakat di sana. Kata Dodo, di sana masih banyak tradisi yang masih dijalankan. Katanya lagi, di sana sering sekali diadakan upacara ritual, mau tanam, mau panen selalu ada upacaranya. Yang menariknya lagi, warga Suku Dayak Kanayatn ini mempertahankan hidupnya dengan bercocok tanam. Imbuh Dodo, “di sana orang-orang ya bertani, hasilnya tidak dijual, hanya dikonsumsi sendiri, dan biasanya dilakukan setahun dua kali, jadi menunggu hasilnya memang lama, di sana kami juga memiliki tempat yang biasa untuk menyimpan hasil pertanian.”

Dodo menambahkan, “jalanan di tempat kami masih tanah merah, bayangkan aja kalau hujan, pernah katanya sepeda motor milik Dodo ditinggal di tengah jalan, karena becek kalau hujan. Listrik belum ada, kami biasa menggunakan genset untuk penerangan, itu saja tergantung ada bensin atau tidak.” Menurut saya, mereka adalah orang-orang mandiri, bisa mempertahankan hidupnya, meski minim sentuhan Pemerintah, dollar naik pun mereka tidak khawatir, sepertinya sangat damai ya. Obrolan kami berlanjut tentang bagaimana mereka mendapatkan informasi. Kata Dodo, orang sana biasa menggunakan parabola untuk mendapatkan informasi, jaringan seluler yang bisa digunakan hanya Telkomsel. Kemarin Dodo sempat dihubungi keluarganya terkait asap di sana, Dodo cerita, asapnya sampai mengganggu jarak pandang, parah kata mamanya.

Mengenal Suku Dayak Kanayatn

Mayoritas Suku Dayak Kanayatn menganut agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan sebagai pedoman kepercayaan dalam kehidupan, akan tetapi sistem reiligi asli Suku Dayak Kanayatn tidak terlepas dari adat istiadat. Orang Suku Dayak Kanayatn menyebut Tuhan dengan istilah Jubata. Di samping kepercayaan terhadap Tuhan YME, Suku Dayak Kanayatn percaya ada kehidupan kekal setelah kematian. Setelah kematian roh yang meninggal akan terus hidup. Menurut informasi yang saya baca di bimbingan.org, sekarang secara perlahan-lahan, kepercayaan akan Jubata yang diyakini oleh warga Dayak berubah. Saat ini banyak masyarakat Dayak Kanayatn yang memeluk  agama Islam. Yang unik dari suku ini, begitu ada warganya yang memluk agama Islam atau Kristen, maka orang yang bersangkutan tidak bisa disebut sebagai bagian dari Suku Dayak, tetapi menjadi bagian dari Suku Melayu atau disebut sebagai Orang Laut. Hmm sepertinya saya harus bertemu Dodo lagi, untuk mendapatkan informasi terkait hal ini ya. Oya tetap pantau blog saya, karena saya akan sharing, pengalaman saya memakai baju tradisional Suku Dayak Kanayatn dilain waktu. Terimakasih..

0 komentar:

Posting Komentar

 

LIKE FOR CLICK ON POST

DON'T CLICK, BUT SEE MORE


JOIN WITH

Blogger Perempuan

RELAX: HERE YOU CAN FEED THE FISH