Menjadi Founder Startup Nggak Cukup Mengandalkan Kecerdasan Saja. 5 Hal Ini Penting!

Hallo! Langsung saja ya,

Beberapa hari yang lalu saya kaget tiba-tiba ada seseorang menghubungi saya via slack, email, dan Instagram milik saya. Saya coba memberikan balasan dengan hati-hati, tidak merugikan mereka, tetapi sebijaksana mungkin saya mencoba memahami niat baik mereka. Saat mendengar mereka berkeinginan untuk mengajak saya ke dalam timnya dalam ajang #1000startupdigital, saya senang meski belum girang. Karena ada beberapa hal yang saya akan selesaikan dalam waktu dekat, saya jadi pikir-pikir kalau diajak untuk kerja sama. Saya senang dengan tawaran mereka. Banyak pertimbangan untuk bisa mengatakan "Ya", bahkan beberapa orang saya minta untuk memberikan masukan kepada saya terkait hal ini. Saya akhirnya bilang “Ya” dan mereka menjanjikan menjemput saya pagi ini jam 5. 

Pagi ini saya siap meninggalkan rumah dalam keadaan kotor, saya sudah rapi, siap ke Jogja jam 5 pagi, bertemu bapak (doi ada di sana hari ini), hehe. Eh bukan, hari ini ada salah satu tim di Networking Session #1000startupdigital berjanji untuk menjemput saya pagi ini, tetapi nyatanya tidak jadi. Saya tidak kecewa karena tidak bisa hadir di acara tersebut, hanya saja saya kecewa dengan sikap mereka. Bukankah berada di ranah bisnis itu harus tahu jam terbang, dan bagaimana soal menghargai waktu. Soal waktu ini juga banyak banget kalau dijabarin. Waktunya klien, waktunya tim, waktunya orang lapangan, waktunya semua yang berani terjun di ranah itu, maka jam terbang mereka harus tinggi. Jika menunda atau membatalkan dalam waktu yang sangat mendadak, berantakan, bisa dimarah-marahin orang, dan yang jelas urusan bisnis jadi kacau. Coba bayangkan saat itu juga kamu disuruh membuat keputusan tanpa menyakiti pihak lain? Apa yang akan kamu lakukan? Maka founder atau calon founder penting memiliki mental yang matang dalam bertindak.

Saya tidak marah karena tidak jadi dijemput, saya hanya kurang setuju, jam saya pagi ini menjadi tidak produktif. Rumah saya masih berantakan, belum disapu, belum dipel, belum mencuci piring, bahkan pakaian saya juga masih sangat berantakan di kasur. Saya yang biasa setiap pagi memasak untuk sarapan, jadi tidak memasak. Jadi nggak sarapan enak pagi ini, meski akhirnya saya jajan di luar. Saya menunggu mereka dari jam 5 sampai jam 9. Karena acara dimulai jam 9, saya nggak bisa melakukan aktivitas sebelum jam itu. Saya kekeuh menunggu mereka. Saya sangat menghargai waktu mereka. Andai mereka memberi kabar setidaknya pukul 6 pagi, saya masih bisa melakukan banyak aktivitas tentunya. Saya sangat menyayangkan mereka karena memberi kabar ke saya pukul 8.45. 



Kenapa Pagi Buat Saya Penting?


Kebiasaan bangun pagi, membuat saya jatuh cinta dengan pagi. Udara pagi itu sangat menyejukkan, sangat segar, jika saya memutuskan untuk memasak pada hari ini, saya bisa berjalan kaki sampai ke penjual sayur, dan buat saya ini start of the day yang wajib saya lakukan. Saya selalu bahagia dengan pagi saya. 


Kenapa Saya Menulis Judul Itu?



Karena menurut saya membangun startup dan menjadi founder nggak hanya cuma ngandelin kecerdasan, skill, nilai IPK tinggi, dan keberanian, tapi sikap-sikap yang lain juga perlu diperlu diperhatikan. Apa aja sih? Ini lo penting buat kamu jika kamu ingin membangun mental founder sebelum menjadi founder beneran:

1. Bangun Pagi

Jika kamu aja jarang bangun pagi, kapan kamu bisa bangun startup mu? Bangun pagi bisa membuatmu lebih bahagia dan produktif selama seharian. Ide terbaikmu akan datang setiap pagi saat kamu bahagia. Sayang banget kalau kamu bermimpi sebagai founder, tapi tidak melakukan ini.



2. Beribadah Tepat Waktu

Saya juga masih belajar soal ini, kadang lebih mentingin urusan yang lain dari pada ibadah tepat waktu. Sadar atau enggak, ini penting. 



3. Menghargai Orang Lain

Menghargai orang lain sama saja menghargai rekan bisnis kamu. Kamu harus biasakan melakukan ini dan melatih dirimu menjadi yang terbaik untuk orang-orang di sekitarmu, meski penolakan itu barang kali ada di mana-mana. Jadilah founder yang bisa menerima apa pun! Hargai yang lain!



4. Menepati Janji adalah Kebutuhan

Kamu harus tahu siapa dirimu, pekerjaanmu, dan kebutuhanmu. Bagi saya, jika saya adalah seorang founder, Klien itu kebutuhan saya. Bagaimana menghormati klien dengan menepati sebuah janji itu penting. Bagaimana mungkin startup kamu bisa dipercaya jika kamu saja tidak menepati janji saat ingin bertemu dengan mereka. Kamu nggak sayang kontrak dan invoice tiba-tiba dibatalkan gara-gara ini? Setidaknya kamu melatih diirimu untuk menepati janji dengan yang lain dulu sebelum menepati janji dengan klienmu.



5. Sharing

Berbagi itu juga penting, bagaimana jika kamu adalah orang yang tertutup. Belajar dari sekarang, karena berbagi merupakan salah satu cara sederhana untuk membukakan rejeki kamu. Masukanmu dan masukan tim kamu, adalah segalanya untuk startup mu. Sharing all the time!



Saya yakin dari beberapa pembaca sudah memiliki kelima hal itu, tinggal kapan kamu berencana membangun startupmu. Beberapa orang memiliki ekonomi pas-pasan, tetapi mereka berani bermental kaya. Kamu sekarang ditantang, bagaimana memiliki mental founder sebelum menjadi founder beneran. Sukses dan semangat buat kamu yang sedang menunjukkan kemampuanmu di ajang #1000startupdigital. 







Salam,


2 komentar:

  1. dan bangun daya resiliensi, boso jowone bisa bangkit saat kondisi jatuh.
    perlu diingat, saat engkau sudah melangkah dan berada di perjalanan dan engkau tidak tahu kapan sampainya...
    maka disitulah ujian yang sesungguhnya akan dimulai.

    setelah ikut seminar semangat, itu bisa.
    setelah ikut workshop semangat, itu biasa.
    namun saat kondisimu seperti di akhir paragraf di atas, mampukah engkau melanjutkan perjalanan atau akan menyerah.

    menyerah pun sudah kepalang tanggung....

    minta bantuan teman?

    Hanya teman-teman sejatilah yang mau membantu dan itu suangat juarang buanget....

    ingat tulisan Hermawan Kartajaya saat baru resign dari pekerjaannya, teman-teman yang dulu baik, saat itu diajak 'ngomong' aja sudah curiga.

    Sampai akhirnya beliau dan anaknya terpaksa mendatangi bos-nya dulu di HM Sampoerna.
    dan akhirnya seperti saat ini, menjadi pakar marketing dan menelorkan pakar-pakar marketing di negeri ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk komentarnya yang sangat membangun :)

      Hapus

 

LIKE FOR CLICK ON POST

DON'T CLICK, BUT SEE MORE


JOIN WITH

Blogger Perempuan

RELAX: HERE YOU CAN FEED THE FISH