Batik Jumputan dan Shibori dari Jepang


paper source 


Beberapa hari yang lalu baru saja berlangsung perayaan Hari Batik ya? Apakah kamu turut serta mengenakan batik pada saat itu? Apakah kamu termasuk yang senang mengenakan batik? Tapi, apakah kamu pernah mendengar batik selain batik tulis dan cap? Baru-baru ini, meski batik tulis dan cap tidak kalah populer, batik Jumputan atau yang sering kita kenal dengan batik ikat celup sering kali menjadi perbincangan di masyarakat karena motif dan warnanya lebih cerah. Berbeda dengan batik tulis dan cap yang dibuat dengan menggunakan malam atau lilin, batik ini dibuat dengan cara diikat dan dicelupkan ke dalam perwarna batik yang sudah disiapkan.

Menurut sumber yang dilansir dari beberapa media, batik ini dulunya diperkenalkan oleh orang India yang kemudian menyebar ke Cina, Jepang, dan bahkan ke Indonesia. Tetapi, dari sumber lain menyebutkan bahwa sejak Abad ke-10, pada Prasasti Sima disebutkan bahwa batik Jumputan sudah berkembang pesat saat itu.

Di Indonesia, batik Jumputan sangat populer di semua kalangan. Harga dan kualitas tergantung jenis kain, motif, dan pewarnaan. Tidak hanya di Yogyakarta, batik Jumputan hampir terkenal di seluruh Nusantara. Di Bali, batik ini sering diaplikasikan ke dalam kaos pantai yang memiliki warna cerah dan warna-warni. Di Palembang nama batik Jumputan dikenal dengan nama pelangi, karena perwarnaannya yang berwarna-warni. Berbeda dengan di Palembang, istilah di Banjarmasin dikenal dengan istilah batik Sasirangan. Di beberapa kota di Indonesia, seperti Pekalongan, Solo, bahkan Yogyakarta, batik Jumputan juga banyak ditemui. Yang paling penting saat Kamu memutuskan untuk berbelanja, Kamu harus cukup pintar memilih bahan, motif, dan kualitas. Di Indonesia, batik ini dibuat dengan target pasar yang berbeda-beda sehingga bahan, motif, kualitas, dan harga juga tentu berbeda-beda.

Di Jepang, batik ini dikenal dengan nama Shibori dengan khas perwarnaannya berwarna indigo atau biru. Di Jepang, konon Shibori ini sudah ada sejak Abad ke-8. Lebih lama dari Indonesia, ya? Sebenarnya, teknik Shibori ini hampir sama cara membuatnya seperti batik Jumputan yang berasal dari Indonesia. Menurut cerita, Shibori ini dulu dibuat oleh rakyat yang tidak mampu membeli baju berbahan sutra dan katun, sehingga menggunakan baju rami dan menutup nodanya dengan teknik ini. Jika Kamu melihat batik Jumputan dengan pewarnaan indigo, sudah dipastikan bahwa pengrajin batik memberi sentuhan Shibori di karyanya. Di Pekalongan ada pengrajin yang menjual batik dengan teknik ini. Kamu dapat menemukannya di salah pusat perbelanjaan khusus batik di Pekalongan. Dulu waktu ikut Fam Trip ke Pekalongan saya sempat memotret beberapa batik dengan teknik Shibori di sana, tetapi dokumentasinya belum ketemu.

Btw Jumputan ataupun Shibori cukup menarik ya? Atau kamu ingin mencobanya? Sekarang banyak sekali kelas workshop pembuatan batik jumputan atau sering disebut Shibori Jepang pada poster-poster acara. Kamu bisa kok ikutan kelas workshop semacam itu. Kamu bisa ikuti beberapa akun kreatif di Instagram seperti Indoestri, genetikaconceptstore, dan masih banyak lagi. Dulu sewaktu masih mengajar di SMK, saya pernah praktik bersama murid saya, tetapi dokumentasinya belum ditemukan. Mungkin lain kali kalau dokumentasi pembuatan batik ini ada, saya akan tambahkan ya. Oya, kamu bisa mengkreasikan beberapa kain yang sudah tidak terpakai di rumah menjadi Shibori atau Jumputan. Selamat mencoba!

0 komentar:

Posting Komentar

 

LIKE FOR CLICK ON POST

DON'T CLICK, BUT SEE MORE


JOIN WITH

Blogger Perempuan

RELAX: HERE YOU CAN FEED THE FISH