Job Seeker Melimpah, Tapi Kamu Pilih Resign ?

sumber : infojakarta.net

Saya terkontaminasi keraguan untuk menulisnya, tetapi saya sadar saya harus menulis ini. Saya juga sadar, saya bukan tipe perempuan yang cepat rapuh. Saya tidak pernah lelah belajar, belajar dalam hal ini belajar dengan hal-hal remeh hingga besar. Saya bukan tipe perempuan yang mudah menyerah, semangat saya berkali lipat. Memilih keputusan yang pada awalnya memang saya yang memilihnya lalu menjadi kebingungan tersendiri ketika harus mengakhiri. Prinsip saya, berani memulai, berarti berani sampai finish (sampai benar-benar dalam keadaan yang baik secara keseluruhan).

Setahun yang lalu terbesit dalam benak saya untuk segera resign dari pekerjaan namun gagal, setengah tahun kemudian terbesit kembali namun gagal, dan pada akhirnya setahun kemudian saya benar-benar resign dari pekerjaan saya.  Kalau ada yang mengatakan, jiwa saya memang tidak ada di sini, tidak benar adanya. Saya meski butuh uang, meski tiap bulan masih dibantu orang tua, tetapi saya tidak bekerja untuk uang. Entah mau dibilang saya ada-ada aja silakan. Menurut saya, banyak hal yang bertentangan dengan prinsip saya. Saya keras kepala ? ya bisa jadi saya benar-benar keras kepala. Entah bekerja maksimal menurut saya mungkin berbeda dengan maksimal menurut yang lain. Saya super tega ? silakan apa saja yang ingin dilemparkan pada diri saya. Bekerja itu selain otak bekerja, hati juga harus terjaga. Entah ada perasaan tidak nyaman menyelimuti saya waktu itu. Terus berulang, meski harus melewati semuanya dengan kesabaran.

Saya tidak bersyukur ? Saya pura-pura tidak tahu apa, job seeker melimpah, dan saya pilih resign ? Pertanyaan itu selalu saya diskusikan dengan orang-orang terdekat saya, beberapa ada yang berkomentar mendukung, ada yang berkomentar jangan. Saya bersyukur dengan memilih pilihan resign, karena dengan begitu saya menjadi pribadi yang tentu secara psikologis, saya lebih baik. Produktif atau tidak ? Saya lebih nyaman sekarang, dan kenyaman saya menjadikan saya lebih produktif dalam konteks yang lebih luas, iman (berusaha memperbaiki diri) dan urusan-urusan dunia saya. Banyak saya tahu, banyak sekali yang mengatakan keluarlah dari zona nyamanmu. Menurut saya itu bohong, pada akhirnya yang menjadi pilihan adalah pada bagian nyaman seberat apapun resiko ataupun tanggung jawab.

Jika memutuskan bekerja kembali, apa yang akan dipilih ? Lihat saja nanti, biar menjadi urusan Allah, meski saya pernah memilih

4 komentar:

  1. saya cm bisa komentar bahwa kerja itu butuh kenyamanan...

    BalasHapus
  2. Kalo ngerasa nggak nyaman, mending putusin aja. Eh.

    BalasHapus
  3. lanjutin dari lpak sebelah, kakak bahas cewek ya :D

    BalasHapus

 

LIKE FOR CLICK ON POST

DON'T CLICK, BUT SEE MORE


JOIN WITH

Blogger Perempuan

RELAX: HERE YOU CAN FEED THE FISH